City Story 1: Kondektur*


* Cerita ini dibuat saat penulis masih menjalani perkuliahan di tahun 2010. Tulisan ini merupakan narasi dari pengamatan yang penulis lakukan terhadap kondisi Kota Jakarta di kala itu.

 

Ada fenomena yang cukup unik untuk disaksikan di kota Jakarta dalam hal tarif penumpang. Sudah jelas-jelas pemerintah menerapkan aturan untuk sebuah  minibus yang biasa disebut dengan metromini. Untuk orang dewasa maka dipasang tarif mencapai dua ribu rupiah, sedangkan untuk pelajar sekolah ataupun mahasiswa hanya seribu rupiah. Yang menjadi masalah ialah anggapan dari kondektur (kenek) bahwa pelajar sekolah adalah mereka yang memakai seragam sekolah saja baik SMP ataupun SMA. Sehingga saat mereka sedang mengenakan pakaian biasa (bebas) maka tarifnya pun disesuaikan dengan tarif orang dewasa. Weleh… weleh.

Walaupun demikian, bukan berarti seluruh kondektur memiliki persepsi seperti itu. Terkadang ada seorang pelajar sekolah mengenakan baju biasa (umum) diperbolehkan untuk membayar sesuai tarifnya (tarif pelajar). Berikut akan diuraikan tipe-tipe kondektur:

  1. Gak mau tau

Kondektur tipe ini merupakan tipe orang apatis. Baik jarak jauh ataupun dekat pokoknya kondektur tipe ini ingin agar penumpangnya membayar sesuai tarif. Faktor pemicunya bisa beragam, mulai dari kejar setoran, dan lain-lain.

  1. Negosiator

Tipe kedua ini bisa dibilang lebih peduli dibandingkan sebelumnya, karena ia masih ingin bernegosiasi dengan penumpang yang membayar kurang dari tarif. Hasilnya? Terkadang sang kondektur hanya bisa pasrah karena si penumpang agak ngotot hanya mampu bayar sekian (kurang dari tarif).

  1. Pemerhati

Adapun kondektur tipe ketiga ini, dialah yang diidam-idamkan oleh kalangan pelajar. Karena pada hari libur ia membiarkan mereka untuk membayar sesuai tarif pelajar. Fenomena yang sering terjadi yaitu pada hari Minggu dimana banyak dari kalangan pelajar sekolah (terutama SMP dan SMA) yang mengadakan kegiatan olahraga di Senayan. Bagi yang menggunakan kedaraaan umum, tentu saja mereka harus mengeluarkan ongkos untuk menuju ke tempat tersebut. Pada kesempatan itulah sebagian dari mereka berharap agar dapat membayar sesuai tarif anak sekolahan saja (terutama yang kalangan kere, hehe).

  1. Tak ambil pusing

Satu lagi tipe kondektur yang mungkin jarang ditemukan. Bisa jadi ia adalah tipe kondektur yang sudah makan garam bergelut dengan transportasi di ibukota. Bayangkan saja, betapa hebatnya ia dibandingkan dengan kondektur lainnya. Tak perlu banyak bernegosiasi, cukup dengan memberikan isyarat bila terjadi keganjalan (misal menggerak-gerakan kumpulan uang receh di tangannya, artinya “kok kurang uangnya?) lalu sang penumpang pun langsung mengutarakan alasannya (biasanya karena jarak yang dekat). Akhirnya sang kondektur pun merelakan begitu saja.

Pada intinya penulis ingin mengutarakan bahwa kondektur yang mendukung eksistensi pelajar pengguna bis umum adalah tipe kondektur yang ketiga. Hal ini dikarenakan mereka dapat memahami kondisi para pelajar pengguna bis umum, walaupun menggunakan pakaian umum mereka tetap berharap dapat membayar sesuai tarif pelajar (karena biasanya ongkosnya pas-pasan, hehehe).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s