City Story 2: Kisah Imigran Kuli Batu di New York


Tulisan ini diambil dari tugas mata kuliah City Power yang pernah penulis ikuti pada tahun 2011. Kelas ini difasilitasi oleh seorang dosen bernama bu Herlily yang telah menamatkan studinya di University of Berkeley, USA. Mata kuliah ini terbilang unik karena materi yang disajikan berasal dari film. Disini penulis belajar bagaimana sebuah kota terbentuk, termasuk orang-orang yang menyertainya.

Sepertinya tidak berlebihan jika penulis mengatakan bahwa dalam proses menuju cita-cita yang diharapkan akan terdapat berbagai tantangan. Sebagaimana dalam kisah La Ciudad ini bercerita tentang perjuangan para imigran (urban informality) dalam bertahan hidup di kota. Kisah ini terjadi di New York. Pada kesempatan kali ini penulis akan menceritakan kisah para imigran disana yang bekerja sebagai kuli bangunan (tukang batu).

Mereka adalah para imigran yang berasal dari Meksiko. Di New York pada saat itu begitu sulit untuk mendapat pekerjaan, sementara mereka harus berjuang untuk mencari sesuap nasi. Pekerjaan apapun yang ada mereka lakoni termasuk bekerja sebagai kuli batu ini.

Untuk bekerja sebagai kuli batu pun bukanlah perkara mudah. Mereka harus melalui proses penyeleksian yang ketat karena diperebutkan oleh segenap imigran disana. Mereka yang terpilih selanjutnya diangkut oleh sebuah truk ke suatu tempat reruntuhan bangunan yang akan dibangun. Jumlah pekerja yang terpilih hanya sepuluh orang pada saat itu.

Begitu tiba di tempat mereka cukup kaget melihat tanah reruntuhan yang begitu luas. Pada mulanya sempat terjadi konflik antara para pekerja dengan sang bos yang fasih berbahasa Inggris itu mengenai upah yang dibayarkan. Hal ini terjadi karena mereka harus menerima kenyataan bahwa upah yang akan mereka peroleh begitu minim. Walaupun demikian, setelah melalui proses perundingan akhirnya mereka pun menyetujuinya.

Proses bekerja mulai berlangsung. Mereka mulai memecahkan batu-batu yang akan dijadikan sebagai bahan bangunan. Mereka bekerja masing-masing. Semakin banyak pecahan batu didapat, semakin  banyak pula upah yang akan diperoleh. Pada saat itu tiba- tiba seorang pekerja berhenti dan mengeluh dengan apa yang sedang dikerjakannya. Ia merupakan salah seorang pekerja yang tidak setuju mengenai upah ‘minim’ yang dibayarkan. Salah seorang temannya berusaha merelai setelah sebelumnya sempat terjadi adu mulut dan kontak fisik padanya.

Konflik berujung pada maut yang menimpa salah seorang pekerja disana. Ini terjadi selepas istirahat siang ketika matahari semakin menyengat.Tiba-tiba terdengar tembok runtuh pada salah satu sudut di tanah reruntuhan itu. Semua pekerja bergegas menghampirinya. Amat disayangkan, ternyata salah seorang  imigran itu tak berhasil meloloskan diri. Ia tertimpa oleh tembok reruntuhan.

Tak banyak yang dapat mereka lakukan atas musibah ini. Akses ke rumah sakit kota begitu jauh, sementara truk angkut mereka baru akan tiba mengangkut mereka kembali pada sore hari nanti. Akhirnya jasad tak berdaya itu pun dibaringkan begitu saja. Isak tangis sia-sia dari beberapa orang temannya, menunggu pertolongan yang mungkin tak kan pernah muncul pada tanah reruntuhan terpencil seperti itu.

Inilah salah satu gambaran mengenai kehidupan para imigran di Kota New York. New York sebagai kota yang belum utuh pada saat itu cukup mengalami kesulitan dalammengatasi permasalahan akan urban informality ini. Di satu sisi para imigran itu merupakan orang-orang yang perlu mendapatkan perhatian. Namun disisi lain, mereka pun harus menanggung akibat sebagai urban informality yang sulit untuk mendapatkan akses memperoleh pekerjaan. Pemerintah selaku stakeholder memiliki andil besar untuk menangani masalah demikian. Kisah ini memberikan pelajaran bahwasannya isu urban informality merupakan salah satu bagian penting yang juga berhak mendapat perhatian dalam kehidupan berkota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s